Catatan untuk Tiwi

Hai Tiwi, baru beberapa saat tadi aku baca tulisanmu untuk Lusi di blogmu.

Tulisan ini juga aku buat sebagai jawaban atas tulisan Surat Untuk Lusi di blogmu.

Aku bingung mau mulai darimana, ‘ruang itu’, ‘potensi’, ‘kakak’, ‘dewasa’?ah sudahlah..terlalu banyak yang akan aku bahas. Sebenarnya dengan berkomunikasi langsung lebih nyaman buatku, juga mungkin buat kamu. Tapi karena beberapa alasan jadi aku milih nulis, ya nulis Wi, aku sekarang udah mulai nulis, hehehe

Aku mau bilang, semoga kamu selalu diberi kesehatan agar selalu bisa mengembangkan potensimu. Soal  ga nengok KKN, maaf banget Wi, aku masih ga sempet, masih ada beberapa urusan sama kampus, juga lainnya. Maaf aku bukan kakak yang baik.

aku sedih baca tulisan kamu buat Lusi sekaligus bangga. Aku sedih dengan semua jawaban kamu, kalau emang semua betul berarti aku sebagai kakak bukan kakak yang bisa membimbing adiknya, mungkin aku bisa ajarin kamu apa aja tapi enggak mendidik kamu apalagi mengayomi, maaf. Aku bangga kamu selalu jujur tapi bukan berarti kamu harus menjadi inferior, bukan dengan kamu merendahkan diri kamu, lagi-lagi salahku sebagai kakak kamu, maaf.

Kalau perkara ngebales kangen, bukan masalah besar. Bukankah banyak rindu yang terbalas?aishh..

Pertama, masalah ‘keluarga’ konsep itu juga sangat abstrak buatku, ga akan aku bahas disini. Selanjutnya, kamu ga harus malu sama adik-adikmu, kamu bukannya tidak bisa apa-apa dan tidak punya potensi. kamu gila membaca dan suka menulis, kombinasi yang klop, yang cuma orang cerdas yang punya itu, masih mau bilang kamu ga bisa apa-apa?kalo iya, berarti kakak kamu yang salah karena ga bisa mengarahkan kamu, maaf. Terkait potensi, dalam hal ini aku nangkepnya potensi kamu di ORAB. Kalau emang iya, dengan kecerdasan kamu, aku yakin kamu ga butuh waktu lama buat belajar, asal kamu emang punya niat yang besar. Selain potensi itu, aku rasa kamu di atas adik-adikmu dan kawan seangkatanmu. Kamu sangat pantas ditiru, Wi.

Kedua, aku tahu masalah ini mengganjal kamu dan juga kawan-kawan angkatanmu. Tentang hilangnya satu persatu angkatanmu, dari tujuh belas hanya tinggal separuh kurang. Menurutku ini bukan alasan Wi, biarpun ini masalah. Aku selalu menganggap orang-orang yang kamu anggap ‘berhati dingin’ itu keluarga, pun juga kamu. Hilangnya mereka bukan tidak harus berbanding dengan hilangnya semangat kita. Harusnya kita malah semakin giat, dari program keren sampai hura-hura, agar mereka yang ‘berhati dingin’ itu dapat ‘menghangat’. Atau mungkin kita harus membuat aksi ‘kamisan’ di depan ‘rumah’ untuk kawan-kawan kita yang hilang ?

Ketiga, semua orang punya ego, hanya sampai mana batasnya kita tidak tahu. Pun aku juga.

Keempat, tidak ada yang menulis sebaik kamu, membaca segiat kamu, lalu potensi manakah yang kamu dustakan?pun dengan potensi kamu di ORAB atau pengelolaan organisasi. Sekali lagi, kamu pantas ditiru. Masalah rasa, mintalah sama Tuhanmu, hanya dia yang sesungguhnya dapat membolak-balik perasaan.

Kelima, dalam hal ini aku sedikit setuju denganmu. Kamu yang sudah  – dua puluh satu-  harus bisa mengontrol mood kamu, bukan lagi mood yang mengontrol kamu. Setidak-tidaknya kamu mempunyai tugas dan tanggungjawab di ‘rumah’. Kalau kamu masih belum bisa menjalankan komitmen kamu di ‘rumah’ sepertinya aku salah mendidik, jelas salahku sebagai kakak, maaf.

Keenam, jenuh itu manusiawi dan segala yang berlebihan tidak baik. Menjauhlah ketika jenuh dan kembalilah ketika segar, itu saranku. Segera pergi ketika jenuh, jangan menumpuk jenuh. terkait perjuangan, siapa bilang itu perjuangan mereka?itu perjuangan kalian, perjuangan angkatanmu dan angkatan dibawahmu. Dan kamu masih bagian dari angkatanmu,bukan? Buat apa melangkah cepat dengan meninggalkan teman?aku yakin kawan dan adikmu akan mau melangkah bersama, beriringan, cepat lambat tak soal.

Ketujuh,  dari tulisanmu untuk Lusi, itu menyatakan kalau kamu dewasa. Cuma anak kecil yang selalu merasa dewasa, sedang orang dewasa?tentu selalu merasa belum dewasa. Ini menurutku lho ya, sangat mungkin salah. Sedang masalah waktu yang terasa cepat, aku mengibaratkan seperti teori relativitas,  bila kamu memposisikan diri di luar kereta (objek) yang bergerak, maka kamu akan melihat kereta  itu bergerak dengan cepat, tapi bila kamu ada di dalamnya maka kamu akan merasa lambat, ya seperti itu, semuanya relatif. Masalah mengayomi, kamu bisa mengayomi adik kandungmu di rumah to?masa adikmu yang di ‘rumah’  ini engga bisa kamu ayomi juga. Kalau masih engga bisa juga, berarti aku ga bisa nyontohin cara mengayomi ‘adik’ yang baik, untuk kesekian kali, maaf.

Kedelapan,  “cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi” rumah tidak akan menutup pintu bagi penghuninya selama apapun waktu, ia terus menunggu bersama keluarga di dalamnya.  Perginya kamu bukan sebuah beban, kembalinya kamu selalu menjadi harapan. Untuk kedelapan kalinya, maaf jika aku belum bisa memberikan contoh yang baik.

Dari kakakmu, ids.

 

Purwokerto, menjelang subuh yang juga dingin.

30 Agustus 2016, 03.53 WIB

Tinggalkan Balasan